MEDIA TERNATE

HILANGNYA 11 BUNGKUS MI, KISAH NYATA YANG DIRASAKAN SETIAP KELUARGA INDONESIA

 



JAKARTA, 20 Desember 2025 - Coba lihat lembaran uang Rp50.000 di dompet Anda. Sekarang, bayangkan waktu diputar mundur ke tahun 2013. Uang dengan warna biru yang sama itu punya kekuatan yang sangat berbeda.


Bagi generasi yang tumbuh di awal 2010-an, uang Rp50.000 adalah pahlawan bagi anak kos dan perantau. Ia adalah jaminan untuk bertahan. Di warung atau minimarket terdekat, uang itu bisa ditukar dengan 25 bungkus mie instan, cukup untuk stok makan berminggu-minggu.


"Rp50.000 dulu itu kayak dewa penyelamat. Bisa buat mie, rokok, pulsa, bahkan sisa buat jajan," kenang Andi Pratama (37), seorang karyawan swasta yang dulu merantau ke Jakarta tahun 2012. "Hidup tenang, mikirnya cuma besok kerja yang bener."


Tapi ceritanya berubah di tahun 2025.


Kita mungkin bangun lebih pagi, kerja lebih keras, dan pulang lebih larut. Namun, saat uang Rp50.000 yang sama itu dibawa ke tempat yang sama, daya magisnya telah menguap. Ia kini hanya sanggup membawa pulang 14 bungkus mie instan.


Lalu, ke mana perginya 11 bungkus lainnya?


Mereka hilang. Bukan karena kita jadi lebih boros, atau karena kurang bersyukur. Mereka raib pelan-pelan, digerogoti sesuatu yang tak kasat mata namun terasa sangat berat di kantong: inflasi.


"Yang hilang itu bukan cuma mie-nya. Yang hilang adalah rasa aman dan kemampuan kita untuk memprediksi hidup," jelas Dr. Rina Dewi, ekonom dari Universitas Indonesia, di wawancara melalui telepon. "Inflasi yang bergerak lebih cepat daripada peningkatan pendapatan nyata masyarakat membuat uang kita 'menyusut'. Orang bekerja lebih keras bukan untuk menjadi lebih sejahtera, tapi hanya untuk bertahan, untuk sekadar mempertahankan daya beli yang dulu sudah mereka miliki."


Fenomena ini bukan sekadar tentang mie instan. Ia tentang harga telur, minyak goreng, tarif listrik, biaya transportasi, dan sewa kos. Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus, yang membuat nilai uang kita turun. Dengan uang yang sama, kita dapat barang yang lebih sedikit.


Peluk jauh untuk setiap pekerja, ibu rumah tangga, anak kos, dan semua yang hari ini berjuang mengatur gaji yang pas-pasan di tengah harga-harga yang terus merangkak naik. Bertahan sampai hari ini adalah sebuah pencapaian.


Rasanya memang sedih, ketika disadari bahwa lari kita begitu kencang, bukan untuk mendahului, tetapi hanya agar tidak tertinggal terlalu jauh.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.